"Jadilah seperti pohon rendang yang berbuah; dibalingkan dengan batu, tetapi diberikan buah sebagai balasan." ~Hasan Al-Banna~

Saturday, 3 November 2012

kerana harta kita leka.



kerana Harta manusia boleh bergaduh dan membunuh,
saling benci membenci,
saling sakit menyakiti,
hati jadi kotor kerana tamak haloba ,
mempertahankan harta seolah-olah ia milik kita selamanya
dan kita tidak akan mati.

astaghfirullalazim.



manusia alpa, apabila niat berharta bukan kerana Allah.

berlakulah perebutan harta,
tiada harta yang disedekahkan ke jalan Allah..

***************************


akhir kata : "Ruginya orang kaya tak solat, Nabi Sulaiman yang kaya pun solat."


Kata Imam Ghazali, yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkn solat. Gara2 pekerjaan kita tinggalkan solat, gara2 meeting kita tinggalkan solat.

Benar. Orang yang tidak solat - orang yang tidak akan bahagia

********************************************



Cinta dunia takut mati


قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم: "يوشك الأمم أن تداعى عليكم كما تداعى الأكلة إلى قصعتها" فقال قائل: ومن قِلّةٍ نحن يومئذٍ؟ قال: "بل أنتم يومئذٍ كثيرٌ، ولكنكم غثاءٌ كغثاء السيل، ولينزعنَّ اللّه من صدور عدوكم المهابة منكم، وليقذفنَّ اللّه في قلوبكم الوهن" فقال قائل: يارسول اللّه، وما الوهن؟ قال: حبُّ الدنيا وكراهية الموت

Daripada Thauban Rasulullah bersabda, “Hampir-hampir orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas talam.” Seseorang berkata, “Apakah kerana sedikitnya kami waktu itu?” Baginda bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air bah. Dan ALLAH mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta mencampakkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.”

Saya baca dalam satu laporan bahawa jumlah umat Islam di seluruh dunia sekarang ialah 1.57 bilion dengan nisbah satu orang Islam bagi setiap empat penduduk dunia. Satu jumlah yang amat banyak berbanding agama lain.

Namun apa yang dikesali ialah walaupun kita boleh di anggap menang dari segi kuantiti tapi kita kalah dari segi kualiti. Umum menyedari bahawa uamat Islam di kebanyakan negara berada dalam situasi yang tidak boleh di banggakan.

Lihat sahaja di Asia Barat. Negara-negara Arab mengelilingi Israel di segenap penjuru tapi Israel yang bilangannya sedikit dapat berdiri dengan sombongnya. Kata seorang teman kalaulah setiap orang Islam di Negara Arab bersatu membaling batu ke arah Israel nescaya Israel akan tenggelam.

Realitinya umat Islam tidak saling bantu membantu bahkan bertelingkah antara satu sama lain. Semangat perkauman masih menebal. Penyakit tamak haloba menguasai umat. Hasad dengki dan dendam kesumat dan sebutlah semua penyakit hati yang melanda umat Islam sekarang.

Maka kita tidak boleh bangga dengan ramainya bilangan kita. Kita mahu manusia seperti sahabat dalam Badar. Bilangan kecil dapat mengalahkan yang bnyak. Mereka adalah manusia yang cintakan akhirat dan mencari syahid di medan jihad.

Apa sebab umat Islam sekarang diperkotakkatikkan oleh musuh Islam? Mengapa umat Islam tidak menang? Hadis di atas menerangkannya. Kita diserang penyakit al-wahn – cinta dunia dan takut mati..
Rasulullah S.A.W., mengatakan disebabkan oleh “al-Wahnu”. Secara tegas, nabi saw, menjelaskan arti kata ini;”Seorang sahabat bertanya, ‘Apakah itu al-wahnu itu, ya Rasulullah?’ Rasulullah saw, menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.”



Zaman terus bergulir menghampiri penghabisannya. 
Hadits-hadits nabi tentang datangnya akhir dari alam semesta semakin 
terpenuhi. 

Kita telah melihat bahwa ummat ini semakin mengikuti tingkah laku yahudi 

dan nashara.
Bukan hanya di mal-mal, bahkan di pasar-pasar tradisional, 

kita dapat melihat betapa ummat ini telah melangkah meninggalkan millah 

Islam dan terus saja mengikuti jejak yahudi dan nashara, 

sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga ke lubang biawak pun 

mereka ikuti.
Ummat telah banyak yang melupakan Allah. Mereka terjebak dalam 

kenikmatan duniawi yang sementara. 


Mereka berbuat semaunya seolah surga dan neraka itu tak ada.


 Telah banyak diantara kita yang meninggalkan shalat fardhu sebagai tanda tak rindunya kita dengan Allah. Kalau pun kita shalat, kita shalat tanpa tahu ilmunya dengan baik dan benar. Kalau pun tahu ilmunya, hati dan fikirannya belum bisa benar dalam mendirikan sholat. Tetapi yang sangat perlu diperhatikan adalah mereka yang telah meninggalkan shalat fardhu. Apakah mereka tidak rindu untuk berjumpa dengan Allah?
Dari meninggalkan shalat itulah, ummat menjadi insan-insan yang mudah terjatuh kepada perbuatan keji dan mungkar. Narkoba dan minuman keras yang dulunya hanya diminum oleh orang-orang kafir, sekarang juga telah diminum oleh muslimin dengan penuh kebanggaan. Pembukaan aurat yang dulunya hanya dilakukan wanita-wanita kafir, kini juga dilakukan oleh muslimah dari yang muda hingga yang tua. Bahkan perzinahan di kalangan remaja pun menjangkiti para remaja muslim. Jika tahun baru dan valentine day tiba, hampir-hampir di muka bumi ini tidak tersisa lagi dari golongan Muhammad Rasulullah, kecuali sebagian kecil remaja yang meramaikan Masjid-Masjid dengan lafazh ‘Ya Allahu ya Allah’ untuk meredam musibah yang mungkin timbul akibat perbuatan sebagian besar ummat manusia yang terlena dalam kenikmatan duniawi di malam-malam tersebut.
Sebagian ummat Islam telah terjangkit dengan penyakit ‘hubbud dunya’, terlalu mencintai kehidupan duniawi. Mereka begitu bernafsu terhadap kehidupan dunia ini sehingga mereka lupa akan kematian, dan mereka tidak mau mengingat kematian, serta sangat takut terhadap mati. Mereka takut mati, selain karena amal mereka, juga lebih-lebih dikarenakan mereka tidak mau meninggalkan dunia yang sangat mereka cintai ini. Mereka mencintai dunia ini hingga malas beramal yang mendekatkan diri mereka kepada Allah. Mereka mencintai dunia ini hingga melupakan Allah, tidak merindukan-Nya, tidak pula mengharapkan pertemuan dengan-Nya. Kasihan, walau mereka sangat mencintai dunia ini, tetapi tetap saja, mereka pasti menemui kematian.
Jika mereka memang rindu untuk berjumpa dengan Allah, tentu mereka beramal shalih dengan penuh keikhlasan dengan mengharapkan keridhoan dari Allah. Tentu mereka berusaha untuk menyenangkan Allah dan melayani-Nya sebagaimana mestinya seorang hamba. Tetapi kebanyakan kita telah menjadi hamba dari nafsu kita sendiri dan terus melayani nafsu sebagai tuannya. Dan nafsunya begitu cinta terhadap kehidupan duniawi.
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (Al-Kahfi: 110)
Inilah potret generasi kita, dimana ummat semakin terjangkit penyakit Al-Wahn, yaitu cinta dunia dan takut mati.
Kemaksiatan, pada saat sekarang ini sudah menjadi pemandangan yang lazim di mana-mana. Lantas apakah kita akan berdiam diri melihat umat yang semakin hari semakin jauh dari tuntunan Allah dan Rasulnya? Saat ini Umat Islam diuji, sejauh mana mereka peduli kepada sesama manusia, terlebih kepada sesama Muslim, maka sejauh itu pula pertolongan Allah SWT akan datang kepadanya. Jika sebaliknya, maka umat Islam justru akan merasakan berbagai musibah dan bencana.



”Tidaklah seseorang melakukan perbuatan-perbuatan maksiat dan ia berada dalam suatu kaum, namun kaum itu tidak mencegahnya walaupun mereka mampu, melainkan Allah SWT akan menimpakan bencana yang pedih ke atas kaum itu sebelum mereka mati.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah).

Maka sudah jelas bagi kita, inilah sumber berbagai musibah, bencana, dan malapetaka yang berturut-turut datang silih berganti di negeri ini. Yaitu, kelalaian kita yang terus-menerus justru berkubang dalam sikap egois, membangun ketidakpedulian kepada saudara-saudara kita yang masih berani menentang perintah Allah SWT. Perhatikan perumpamaan Rasulullah saww berikut :
مَثَلُ القَائِمِ في حُدُودِ اللهِ وَالوَاقعِ فِيهَا ، كَمَثَلِ قَومٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ ، فَأَصابَ بَعْضُهم أعْلاهَا ، وبعضُهم أَسْفلَهَا ، فكان الذي في أَسفلها إذا استَقَوْا من الماء مَرُّوا على مَنْ فَوقَهمْ ، فقالوا : لو أنا خَرَقْنا في نَصِيبِنَا خَرقا ولَمْ نُؤذِ مَنْ فَوقَنا ؟ فإن تَرَكُوهُمْ وما أَرَادوا هَلَكوا وهلكوا جَميعا ، وإنْ أخذُوا على أيديِهِمْ نَجَوْا ونَجَوْا جَميعا
“Perumpamaan orang yang teguh dalam menjalankan hukum-hukum Allah dan orang yang terjerumus di dalamnya adalah seperti sekolompok orang yang sedang membagi tempat di dalam sebuah kapal, ada yang mendapatkan tempat di atas, dan ada yang memperoleh tempat di bawah. Sedang yang di bawah jika mereka membutuhkan air minum, maka mereka harus naik ke atas, maka mereka akan mengatakan: “Lebih baik kami melobangi tempat di bagian kami ini, supaya tidak mengganggu kawan-kawan kami di atas. Rasulullah shallallahu’alaihi wa alihi wasallam berkata, Maka jika mereka yang di atas membiarkan mereka, pasti binasalah semua orang yang ada di dalam perahu tersebut, namun apabila mereka mencegahnya semuanya akan selamat”
Kita memohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar diberi kekuatan untuk membedakan antara yang hak dan yang batil, yang ma’ruf dan yang mungkar, kemudian kita bersama-sama menegakkan yang ma’ruf dan memberantas segala bentuk kemungkaran dan kebatilan.

No comments:

Post a Comment